Hallooo.. Kali ini saya mau cerita sedikit tentang film yang sudah lama saya tonton di bioskop. Judul filmnya yaitu "Assalamualaikum Beijing". Film ini di angkat dari sebuah novel karya Asma Nadia .
Film ini menceritakan tentang perjalanan kisah cinta di Beijing pada seorang gadis bernama Asmara dan lelaki tampan yang bermualaf bernama Zhongwen. Perhatian dan kebaikan hati Zhongwen membuat asma mulai membuka hati, namun ragu lantaran berbeda agama. Begitupun sebaliknya pada Zhongwen. Kecantikan dan kelembutan hati Asma membuat Zhongwen jatuh hati.. Singkat cerita, pada akhir cerita di film ini Zhongwen menjadi mualaf. Zhongwen pun mengakui perasaan tulus cintanya kepada Asma berlandaskan cintanya kepada Yang Maha Kuasa. Karena Asma telah menjadi perantara hidayah yang besar bagi Zhongwen hingga akhirnya Zhongwen menjadi mualaf dan memeluk Agama Islam dan cerita berakhir bahagia :)
Bicara soal perantara hidayah, saya juga punya pengalaman tentang perantara hidayah yang secara perlahan menuntun saya untuk berhijab.
Bermula dari perkenalan saya dengan seorang teman laki-laki yang sekarang menjadi teman dekat saya saat ini (dekat di hati hihihi). Dia mengenalkan saya pada dunianya, teman-temannya dan keluarganya. Kebiasaan sehari-harinya bersama teman dan keluarganya yang perlahan mengetuk pintu hati saya, menyadarkan saya untuk menjadi muslimah yang lebih taat kepada Allah. Kebiasaan mereka dalam beribadah tentunya yang membuat saya sadar. Namun kebiasaan mereka belum menjadi kebiasaan untuk saya waktu itu. Saya yang masih jarang beribadah dan belum berjilbab. Awalnya saya cuek tetapi lama kelamaan rasanya malu. Rasa malu yang muncul memaksa saya untuk mengikuti kebiasaan mereka. Dimana pun kapan pun, solat sebagai kewajiban yang tidak pernah mereka tinggalkan sekalipun itu di kereta saat perjalanan yang memakan waktu seharian.
Saya sadar dan saya merasa saat itu ilmu saya bertambah, bahwa di saat apapun itu solat tidak boleh di tinggalkan, dan selalu ada cara mudah untuk melaksanakannya, contohnya di kereta yaitu solat bisa dilakukan sembari duduk di bangku. Saat mereka melaksanakan solat di kereta itulah pertama kalinya saya merasa malu pada diri saya sendiri, pada mereka, dan pada Ia, teman dekat saya. Maukah Ia menerima dan memaklumi saya yang belum bisa berubah jadi lebih baik? ataukah saya yang harus segera mengikuti kebiasaan yang belum biasa saya lakukan?
Beberapa hari, bulan, tahun berjalan perlahan saya mulai mengubah kebiasaan saya. Namun rasa malu tersebut masih ada karna saya belum berhijab. Kejadiannya ketika saya memasuki masjid. Saat itu saya merasa bahwa orang-orang di sekeliling saya ada yang berbisik "masuk masjid, tapi gak nutup aurat" . Entah hanya perasaan atau bagaimana, yang jelas setiap masuk masjid saya merasa malu.
Dan alhasil dari sekian kejadian yang saya alami, saya menyimpulkan bahwa hal tersebut merupakan hidayah untuk saya. Hidayah ibarat cahaya dan hati ibarat jendela. Cahaya tersebut akan masuk ruangan jika jendela itu di buka.Tentu saja Ia dan Mereka sebagai salah satu perantara hidayah yang sudah Tuhan rencanakan untuk saya . Dan tepat di bulan Februari ini (tepatnya di tanggal 22 Februari), satu tahun sudah saya memakai hijab :)
Terimakasih untuk kedua Orang tua, Ia, Mereka, dan semua sahabat. Saya belajar banyak dan mendapat banyak pengalaman dari kalian. Semoga kebaikan selalu bersama kalian seiring dengan kebaikan yang telah kalian lakukan.
" Berhijab adalah salah satu langkah ingin lebih baik dalam menjalankan apa yang sudah di perintahkan Allah. Bukan berarti mereka lebih baik atau tidak baik. -Riamirandadiary.com- "
Film ini menceritakan tentang perjalanan kisah cinta di Beijing pada seorang gadis bernama Asmara dan lelaki tampan yang bermualaf bernama Zhongwen. Perhatian dan kebaikan hati Zhongwen membuat asma mulai membuka hati, namun ragu lantaran berbeda agama. Begitupun sebaliknya pada Zhongwen. Kecantikan dan kelembutan hati Asma membuat Zhongwen jatuh hati.. Singkat cerita, pada akhir cerita di film ini Zhongwen menjadi mualaf. Zhongwen pun mengakui perasaan tulus cintanya kepada Asma berlandaskan cintanya kepada Yang Maha Kuasa. Karena Asma telah menjadi perantara hidayah yang besar bagi Zhongwen hingga akhirnya Zhongwen menjadi mualaf dan memeluk Agama Islam dan cerita berakhir bahagia :)
Bicara soal perantara hidayah, saya juga punya pengalaman tentang perantara hidayah yang secara perlahan menuntun saya untuk berhijab.
Bermula dari perkenalan saya dengan seorang teman laki-laki yang sekarang menjadi teman dekat saya saat ini (dekat di hati hihihi). Dia mengenalkan saya pada dunianya, teman-temannya dan keluarganya. Kebiasaan sehari-harinya bersama teman dan keluarganya yang perlahan mengetuk pintu hati saya, menyadarkan saya untuk menjadi muslimah yang lebih taat kepada Allah. Kebiasaan mereka dalam beribadah tentunya yang membuat saya sadar. Namun kebiasaan mereka belum menjadi kebiasaan untuk saya waktu itu. Saya yang masih jarang beribadah dan belum berjilbab. Awalnya saya cuek tetapi lama kelamaan rasanya malu. Rasa malu yang muncul memaksa saya untuk mengikuti kebiasaan mereka. Dimana pun kapan pun, solat sebagai kewajiban yang tidak pernah mereka tinggalkan sekalipun itu di kereta saat perjalanan yang memakan waktu seharian.
Saya sadar dan saya merasa saat itu ilmu saya bertambah, bahwa di saat apapun itu solat tidak boleh di tinggalkan, dan selalu ada cara mudah untuk melaksanakannya, contohnya di kereta yaitu solat bisa dilakukan sembari duduk di bangku. Saat mereka melaksanakan solat di kereta itulah pertama kalinya saya merasa malu pada diri saya sendiri, pada mereka, dan pada Ia, teman dekat saya. Maukah Ia menerima dan memaklumi saya yang belum bisa berubah jadi lebih baik? ataukah saya yang harus segera mengikuti kebiasaan yang belum biasa saya lakukan?
Beberapa hari, bulan, tahun berjalan perlahan saya mulai mengubah kebiasaan saya. Namun rasa malu tersebut masih ada karna saya belum berhijab. Kejadiannya ketika saya memasuki masjid. Saat itu saya merasa bahwa orang-orang di sekeliling saya ada yang berbisik "masuk masjid, tapi gak nutup aurat" . Entah hanya perasaan atau bagaimana, yang jelas setiap masuk masjid saya merasa malu.
Dan alhasil dari sekian kejadian yang saya alami, saya menyimpulkan bahwa hal tersebut merupakan hidayah untuk saya. Hidayah ibarat cahaya dan hati ibarat jendela. Cahaya tersebut akan masuk ruangan jika jendela itu di buka.Tentu saja Ia dan Mereka sebagai salah satu perantara hidayah yang sudah Tuhan rencanakan untuk saya . Dan tepat di bulan Februari ini (tepatnya di tanggal 22 Februari), satu tahun sudah saya memakai hijab :)
Terimakasih untuk kedua Orang tua, Ia, Mereka, dan semua sahabat. Saya belajar banyak dan mendapat banyak pengalaman dari kalian. Semoga kebaikan selalu bersama kalian seiring dengan kebaikan yang telah kalian lakukan.
" Berhijab adalah salah satu langkah ingin lebih baik dalam menjalankan apa yang sudah di perintahkan Allah. Bukan berarti mereka lebih baik atau tidak baik. -Riamirandadiary.com- "
Terimakasih dan Salam untuk kalian :)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar